11 April 2010

Pengambil Keputusan

Keputusan yang tegas dan didukung banyak pihak, tidak akan membingungkan para pelaksana keputusan itu. Idealnya suatu keputusan didukung semua pihak, tapi sering kali keputusan terpaksa diambil karena memang perlu, walaupun banyak yang tidak setuju. Pengambil keputusan haruslah orang yang kompeten dalam masalah tersebut, sehingga dapat dipertanggung jawabkan dan tegas.

Pengambilan keputusan dalam keluargapun merupakan hal yang penting, setiap hari ada saja hal yang mengharuskan kita untuk mengambil keputusan, dari hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar.

Dalam keluarga harus ada salah satunya yang tegas dalam mengambil keputusan, tidak harus suami, istripun bisa mengambil keputusan, asalkan nantinya pihak yang lain mendukung keputusan itu. Suami memang pemimpin keluarga, tapi tidak semua suami dapat mengambil keputusan, jadi si istri yang harus memutuskannya.

Contoh sederhana dalam mengambil keputusan adalah ketika akan menghadapi lebaran, biasanya suami yang memutuskan anggaran belanja sekian rupiah untuk belanja pakaian. Dan ketika belanja si istrilah yang memutuskan berapa setel pakaian untuk masing-masing keluarga. Istri juga yang memutuskan model pakaian masing-masing anggota keluarga. Nanti jika anggaran masih kurang istri bisa minta tambahan pada suami, suami yang memutuskan boleh atau tidaknya, dan seterusnya.

Jadi suatu keputusan dalam prakteknya bisa saja agak berubah bergantung pada situasi dan kondisi asal jangan sampai melenceng jauh, itupun harus dibicarakan dulu agar stabilitas keluarga terjaga dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar