31 Januari 2010

Utang

Problem dibanyak orang adalah kurang uang untuk sehari-hari. Untuk yang penghasilannya perhari seperti pedagang, tukang ojek dan lain-lain, mereka sehari-hari
pegang uang tapi yang bisa dibelanjakan hanya sebagian karena yang lainnya adalah modal dan uang untuk bayar cicilan utang. Untuk yang penghasilannya perminggu atau perbulan, baru tengah bulan sudah habis uang gaji.

Jadi kurang uang itu sudah biasa pada keluarga pada umumnya. Salah satu penyebabnya yang paling akrab dengan kita adalah kebiasaan kita berutang, baik berupa uang maupun berupa barang.

Biasanya kita sudah sulit membedakan mana keinginan dan mana keperluan. Contoh pengalaman pribadi ketika akan membeli barang di toko atau pasar dan ternyata barang itu tidak ada, tetapi pulang tetap dengan barang belanjaan yang tidak ada dalam daftar belanjaan.

Keinginan inilah yang biasanya menyebabkan kita berutang lebih besar dari yang seharusnya, karena barang-barang yang kita inginkan itu harganya lebih mahal dari yang dibutuhkan, kita beli ponsel 3G padahal kita hanya perlu SMS dan nelpon doang, lagian belum ada jaringan 3Gnya.

Dan sudah menjadi pepatah dikalangan pegawai, kalau tidak berutang kapan kita punya rumah? Kapan kita punya mobil? Kapan kita punya sawah, dlsb? Ada benarnya juga ya hehehe.

Sifat Manusia Kecil dan Manusia Besar

Jika sedang bete anakku tidak akan berbagi dengan siapapun, termasuk dengan kakaknya dan teman-temannya. Jika benda miliknya diambil atau dipinjam pada saat itu juga ia akan segera merebutnya kembali dengan paksa.


Tapi jika lagi baik-baiknya tidak segan-segan berbagi
dengan siapapun, tanpa hitung-hitung.

Anakku hanyalah sebuah gambaran dari manusia dewasa pada umumnya, cermin bahwa sifat kita sekarang ini sebenarnya pengembangan dari sifat kanak-kanak kita dulu.

Sebetulnya sama saja sifat anak-anak dan orang dewasa, hanya saja orang dewasa lebih bisa mengemasnya.

Dan yang bahaya dari orang dewasa adalah kemampuannya mengemas sesuatu yang jahat dalam tampilan yang santun, yang tidak mungkin dilakukan anak-anak.

25 Januari 2010

Hari Ini Indah

Hari ini Senin tanggal 25 Januari 2010, aku mulai dengan bangun tidur jam 01.00 karena bunyi alarm dari ponsel jadulku yang selalu menemaniku kemana saja kecuali kalau aku mau mandi. Karena belum shalat isya, maka aku ambil wudhu untuk shalat isya lalu shalat tahajjud yang aku lakukan dengan cepat maklum kalo terlalu lama malah hilang konsen.

Setelah beres lalu aku mengetik soal matematika untuk TO sampe jam 6.30, pekerjaan yang sangat menyiksa, tapi harus bagaimana lagi ... demi teman.

Beres itu lalu mandi dan sarapan pagi dengan masakan khas warung, lalu cabut ke sekolah.

Ternyata banyak hal yang buat kita ga bisa ngajar, ya sudah nulis aja.

Hari ini masih setengah jalan. Maksudnya masih ada waktuku untuk merenungi perjalanan hidupku yang sudah 42 tahun pada hari ini, alhamdulillah nikmat Allah tidak terhitung. Aku sangat bersyukur untuk semua anugrah Allah padaku, dunia sudah dalam genggamanku, tapi perjalanan masih berlangsung mencari bekal untuk akhiratku.

21 Januari 2010

Gaya Hidup

Aku masih ingat nasehat orang tuaku : hiduplah sederhana jangan berlebih-lebihan, selalu melihat kebawah jangan melihat keatas, penuhi kebutuhan terlebih dahulu baru keinginan, jangan iri pada orang lain dalam hal materi.


Tapi sekarang aku perhatikan beberapa nasehat yang dulu banyak diikuti oleh masyarakat pada umumnya sudah mulai ada yang ditinggalkan, mungkin tidak sesuai lagi dengan kemajuan jaman, atau cara pandang sekarang memang beda ya.

Sekarang gaya hidup orang lebih condong ke arah materialistis, bukan berarti dulu tidak ada gaya materialistis tapi sekarang lebih merata dimasyarakat.

Teknologi sekarang ini sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat, karena dengan kemajuan teknologi informasi lebih cepat kita dapat dari berbagai belahan bumi, sehingga kita dapat melihat gaya hidup masyarakat lain yang sedikit demi sedikit merubah gaya hidup kita.

Baikkah gaya hidup kita? Banyak pilihan dalam hidup, bisakah kita memilih yang terbaik?

18 Januari 2010

Menghargai Hasil Karya Orang Lain

Orang yang berkarya adalah orang yang mempunyai ide, orang yang punya kemauan dan orang yang berani mencoba idenya itu.

Yakinlah bahwa untuk mewujudkan idenya itu ia mengerahkan seluruh kemampuannya.

Karena kemampuan setiap manusia berbeda-beda maka karya yang dihasilkanpun berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain. Suatu karya yang dihasilkan seseorang dengan segenap kemampuannya mungkin saja dapat dihasilkan orang lain dengan sedikit dari kemampuannya.

Yang perlu kita perhatikan adalah bisakah kita menghargai hasil karya orang lain walaupun menurut kita karya itu tidak istimewa dan biasa-biasa saja, bukankah Allah menilai manusia dari usahanya bukan dari hasil, dari kesungguhannya berusaha.