26 Desember 2009

Mr. Bean

Tertawa terbahak-bahak jika menonton film Mr. Bean untuk yang pertama kalinya, lalu kita berkata gila ... ada ya orang seperti itu ... jahil, pelit, tapi banyak akal dan sangat-sangat kreatif.
Sampai sekarangpun sudah beberapa kali menonton masih saja mengundang tawa.

Ketika aku melihat kisah suksesnya dari awal dia merintis untuk menjadi komedian kelas dunia, sehingga bisa disejajarkan dengan Charlie Chapplin (lupa lagi nulisnya), ada rasa hormatku pada Rowan Atkinson pemeran Mr. Bean dan timnya.

Mr. Bean lahir dari proses pemikiran yang panjang melalui dialog dan diskusi-diskusi pemain dan penulisnya. Juga melalui latihan yang keras dari pemainnya, ada satu adegan yang harus dilatihnya selama 8 jam. Dan melalui pematangan konsep dengan pertunjukkan-pertunjukkan dari panggung ke panggung, sehingga lahirlah karakter Mr. Bean.

Ternyata untuk mendapatkan karakter yang tampak begitu bodoh itu bukanlah hal yang mudah. Satu lagi pelajaran untuk sukses.

3 komentar:

  1. Saya sering tertawa kecil melihat kejahilan mr.Bean. Karakternya memang unik, konyol dan menggelitik. Tapi kalau kita jujur, sebagian kita akan melihat pikiran jahil kita dimunculkan di karakter Mr.Bean. Mr.Bean, sebuah komedi satir tentang manusia, egois, jahil, sekaligus konyol.

    BalasHapus
  2. Mr. Bean memang mewakili banyak orang, baik dalam tingkah laku maupun dalam pemikiran. Baru ketemu lagi mbak.

    BalasHapus
  3. MR. Bean tokoh fiktif yang smart tp konyol. Bukti orang barat juga ada yang humble, simple and humanist. Filmnya ga bosen ditonton meski dereplay berulang x.

    BalasHapus