01 Juli 2009

Logika yang Kebalik

Logikanya orang biasa atau yang kurang mampu lebih berhak mendapat lebih banyak daripada orang yang mampu dan orang2 kaya, tetapi pada kenyataannya yang terjadi adalah kebalikannya. Logika ini tidak berlaku dimasyarakat kita pada umumnya.

Pikiran ini biasa muncul jika aku mendapat undangan, nikahan atau khitanan atau walimatusshafar orang yang mau pergi haji, atau kalau mau menengok orang sakit.
Sudah menjadi tradisi bagi kita untuk membawa "amplop", nah disinilah masalahnya, biasanya kalau kita akan "ngamplop", kita mikir dulu, kalau orang biasa-biasa atau kurang mampu, "amplop" kita berisi sedikit rupiah, tapi sebaliknya untuk orang kaya rupiahnya banyak. Inikan logika yang terbalik.

Terutama untuk walimatusshafar yang akan pergi haji, janggal rasanya kalau kita "ngamplop", sudah jelas orang itu mampu membayar ONH, kenapa lagi harus kita sumbang. Kita yang gak mampu bayar ONH nyumbang orang yang mampu bayar ONH? Apa gak kebalik?

2 komentar:

  1. Iya betul mas Wawan, banyak yang terbalik ya. Kepada yang lemah kita pelit untuk menyantuni, kpd yang kaya kita malah mau nyumbang yang banyak hnya krn gengsi. Nice posting.

    BalasHapus
  2. Makasih komennya mbak, itu unek2 saya yang udah lama ada tapi gak bisa mengubah kebiasaan itu karena udah jadi tradisi dan mendarah daging, juga takut diomongin orang kalo gak sama dg yang lain.

    BalasHapus