07 Juni 2009

Tontonan untuk Anak

Setelah menonton salah satu sinetron di tv kesayangannya, keponakanku berkata pada ibunya, "Mah enakan jadi orang jahat daripada jadi orang baik, orang baik banyak susahnya."

Aku pikir anak kelas 2 SD ini tidak salah dalam mengambil kesimpulan, karena sinetron-sinetron sekarang dibuat panjang-panjang dan dalam sekian puluh bahkan seratusan episode diisi dengan berbagai penderitaan si Baik
sedangkan si Jahat hidup dengan nyamannya. Kemenangan si Baik hanya ada pada beberapa episode saja.

Sebenarnya kita semua tahu maksud pembuat sinetron yang intinya si Jahat pasti kalah dan si Baik pasti memang, hanya saja dengan dengan komposisi yang sangat tidak seimbang itu tentunya tujuan itu menjadi kabur, tidak jelas, jangankan untuk anak-anak, orang dewasapun sama saja. Yang terekam dengan baik adalah perilaku buruk si Jahat dan penderitaan si Baik.

Sebetulnya sinetron-sinetron itu untuk dewasa, tapi bukan rahasia lagi jika kita tahu bahwa penonton sinetron sangat banyak anak-anak. Semua orang tahu itu.

Menurutku kesalahan ada dibanyak pihak. Pihak TV menayangkan diwaktu anak-anak masih segar bugar belum tidur dengan alasan Prime Time. Si Pembuat sinetron yang memanjangkan episodenya apalagi kalo laku maka ditambah seasonnya tapi itu tadi tidak berimbang. Dan mungkin yang terakhir adalah para orang tua yang tidak berani melarang anaknya untuk nonton sinetron karena takut dibalikkan oleh anaknya, "kenapa gak boleh kan ibu bapak juga nonton".

Sebagai orang tua memang harus mendampingi anak menonton TV karena banyak yang harus kita terangkan baik tidaknya suatu tontonan pada anak kita karena pada film kartun sekalipun ada sadisme, sarkastik, kekerasan didalamnya.

Memang sulit memilih tontonan untuk anak.

1 komentar:

  1. Kalau sinetron, katanya sebaiknya dijauhkan dari anak2, tp mungkin agak susah juga. Ya anak butuh pendampingan orang tuanya ketika mrk nonton tv, memilih tayangan di tv.

    BalasHapus