06 Juni 2009

Mengingat-ingat Mati

Lupa-lupa ingat, kalimat yang sudah sangat biasa kita ucapkan sehari-hari, yang artinya menurutku adalah sedikit ingat kebanyakan lupa. Mungkin kalimat itu pertama kali diucapkan orang yang menyadari bahwa kita lebih sering lupa daripada ingat, karena itu ada dua lupa dan satu ingat.

Obrolan disela-sela pekerjaan kemarin berlangsung seru, lumayan banyak topik singkat yang kami bicarakan, kesana kemari sampai akhirnya seorang pekan ketika ditanya kegiatannya sehari-hari menjawab lolobanamah candukul, geus kolot mah inget kana paeh, (banyaknya duduk termenung, sudah tua mah ingat mati), diucapkan sambil bercanda. Setelah aku kembali lagi pada pekerjaanku kata-kata itu tetap terngiang ditelingaku, aku percaya betul rekanku itu sungguh-sungguh mengatakannya.

Aku berpikir coba mengingat kapan terakhir kali aku mengingat-ingat mati, kegiatan yang seharusnya aku lakukan setiap hari, setiap waktu, ternyata kegiatan itu sudah lama sekali aku tinggalkan, ya Allah ampunilah hamba Mu ini. Ternyata sulit sekali menggerakkan hati ini untuk mengingat-ingat mati, beberapa tetanggaku meninggal seharusnya bisa memaksa hati ini mengingat mati, ternyata tidak. Beberapa orang disekitarku mengalami kecelakaan ternyata tidak bisa memaksaku mengingat mati. Ya Allah lunakkanlah hatiku yang keras ini.

Kesibukan dunia ini telah menjauhkanku untuk mengingat-ingat mati, yang teringat hanyalah jadwal kegiatan yang harus aku kerjakan sekarang dan esok hari, penilaian manusia yang aku kejar sehingga aku melalaikan penilaian Allah. Ampuni aku ya Allah.

Aku malu karena aku sering lupa pada Allah, sedangkan Allah tidak pernah lupa padaku.

2 komentar:

  1. Hm...nice posting mas wawan. Mas wawan mampu mengingatkan yang lain (yang baca ini) tentang mati dengan sentilan unik ini. Saya suka sekali kalimat terakhir.

    BalasHapus
  2. Sangatlah bagus jika kita hidup masih ingat akan kematian, agar kita tidak hilang arah dan terbuai dlm dunia yg sementara ini...nice postg..

    BalasHapus