15 Februari 2009

KEBIASAAN

Pekerjaan yang sering dilakukan tentunya akan menjadi suatu kebiasaan, pertama kali pekerjaan tersebut terasa berat untuk dilakukan, tapi lama kelamaan pekerjaan tersebut tidak lagi terasa berat. Bahkan kita akan merasakan sesuatu yang kurang jika tidak melakukan pekerjaan tersebut, seperti ketagihan.

Pekerjaan yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan ini berlaku untuk pekerjaan yang baik maupun pekerjaan yang buruk. Orang yang biasa melakukan shalat akan merasakan sesuatu yang kurang ketika waktu shalat sudah masuk, tetapi ia belum mendirikan shalat. Orang yang biasa shalat malam akan merasa bersalah jika suatu malam ia bangun setelah waktu subuh. Tetapi sebaliknya jika ia mulai meninggalkan shalat, pertama kali tentunya akan ada rasa bersalah yang mendalam, ketika sudah dilakukan berkali-kali rasa bersalah itu akan berkurang, dan ketika sudah sering bahkan selalu meninggalkan shalat rasa bersalah itu akan hilang sama sekali, ia akan merasa biasa-biasa saja, tidak merasa berdosa atau bersalah sama sekali.

Kebiasaan inilah yang nantinya akan membentuk pribadi seseorang. Dimasyarakat orang akan dinilai dari kebiasaannya, disebut orang baik jika kebiasaannya melakukan hal-hal yang baik, disebut orang yang tidak baik, bahkan orang jahat jika kebiasaannya melakukan hal-hal yang kurang baik bahkan hal-hal yang jahat.

Kebiasaan yang dimiliki seseorang tentunya akan menghiasi tingkah lakunya sehari-hari, kebiasaan bertingkah laku baik atau buruk, berlaku kasar atau lemah lembut, berlaku jujur atau khianat.

Kebiasaan baik jika dimiliki oleh seorang pemimpin, tentunya akan membawa kesejahteraan bagi rakyat, rakyat akan bahagia dipimpin oleh orang yang seperti ini. Sebaliknya jika pemimpin kita mempunyai kebiasaan buruk, misalnya hobi melakukan korupsi, bertengkar, menjelek-jelekkan orang lain, memuji dirinya dan partainya, tentu rakyat akan menjadi susah.

Mungkin, para pejabat koruptor ataupun koruptor yang bukan pejabat, ketika melakukan korupsi pertamanya akan merasakan perasaan bersalah yang cukup mendalam, rasa takut yang amat sangat. Lalu dilanjutkan dengan korupsi kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, rasa bersalah dan rasa takut berkurang sedikit demi sedikit, akhirnya hilang sama sekali, mulailah yang sekarang timbul setelah melakukan korupsi adalah rasa puas dan kesenangan yang amat sangat. Maka jadilah korupsi merupakan kebiasaan yang mendarah daging, yang mewarnai sikap hidup dan pandangan hidupnya, setiap langkahnya adalah langkah-langkah yang diatur agar bisa melakukan korupsi, setiap kebijakannya diatur agar ia bisa korupsi, setiap nafasnya diatur agar lebih santai melakukan korupsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar