13 Januari 2009

JIKA AKU SEORANG KORUPTOR

Apa yang sedang kau rasakan?
Yang aku rasakan adalah rasa bersalah.
Bersalah pada siapa?
Pada hatiku.
Ada apa dengan hatimu?
Hatiku menjerit ketika aku menggelapkan uang.
Hatiku menjerit ketika aku melihat banyak orang kelaparan disaat aku kekenyangan.
Hatiku menjerit ketika aku melihat ada orang yang mati kelaparan.
Hatiku menjerit ketika aku melihat orang-orang kesusahan.
Tapi aku bungkam hatiku ini demi mencari kesenangan dalam tumpukan uang.
Kubungkam hatiku ini demi kemewahan keluargaku, rumah mewah, mobil mewah, punya villa di puncak, di pantai, punya flat di Singapura, di New York, di London.
Pokoknya aku bungkam hatiku ini, tadinya sulit sekali, tapi lama kelamaan hatiku bisa menerimanya.
Aku melakukan apapun yang aku mau dengan kekuasaan uang hasil korupsiku ini, jabatan aku dapat dengan uang, perempuan cantik aku dapatkan dengan uang, tidur dengan bintang film, jadi anggota DPR, pokoknya aku dapat dengan kekuasaan uang.
Sekarang aku sudah pensiun, sudah saatnya penyakit-penyakit pejabat menggerogotiku, uangku masih banyak tapi aku hanya bisa berbaring ditempat tidur, gak bisa jalan-jalan lagi, kemana-mana aku di dorong dikursi roda, makan ini gak boleh makan itu gak boleh, gak boleh pake garam dan sebagainya … dan sebagainya.
Sudah saatnya aku berhadapan dengan hukum yang mulai mengungkap korupsi yang aku lakukan dulu, penyakitku makin parah, stroke menyerangku, jadilah aku seorang yang tak berdaya.
Mulailah aku mengucapkan doa pada Allah, tuhanku yang sebenarnya, dulu tuhanku adalah uang, semua bisa dilakukan oleh uang.
Mulailah sering aku menangisi perbuatan-perbuatanku yang telah lalu, itupun kalau aku sudah merasa kelaparan, tidak ada orang yang menungguiku, semua pada sibuk dengan urusannya masing-masing.
Aku sudah merasa seperti sampah, tidak ada gunanya lagi, jangankan untuk orang lain untuk keluargakupun demikian, dulu aku bagaikan raja, semua yang merasa keluarga berdatangan untuk sekedar merasakan nikmatnya uang korupsi, aku tidur ditunggu orang yang ingin minta tanda tangan, untuk proyeknya, sekarang gak ada kucing sekalipun yang memerlukan aku.
Aku mulai bertobat, karena sudah gak ada yang bisa saya lakukan lagi.
Mudah-mudahan tobatku tidak terlambat.

3 komentar:

  1. Lam Kenal Pa Wawan... teu kenging melamun jadi koruptor he he he

    Aya dongeng
    Nuju sangsara ngaca oge sok dina kaca jandela..tapi lumayan atra sanajan teu kasep ari kabogohmah micinta...tuluy janten kaya duka timana kaca euntungna oge ku pigura emas.... tapi barang ngaca kalangkangna teu aya sakapeung ngolebat mangrupa buta he he he... U Gun.

    BalasHapus
  2. Hetur nuhun kana komentarna kanggo Puisi "berjuang" .....

    BalasHapus
  3. Salam kenal juga pa Uju, nuhun dongengna.

    BalasHapus